Kita Terbagi Karena Letak Tetapi Satu Dalam Tujuan. Terus Bergerak Sampai Papua Merdeka! Selamat memperingati, 43 Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Papua Barat. 1 Juli 1971 - 1 Juli 2014
Anda Memasuki Wilayah Blogger Anak Papua Merdeka | Dengan Berkunjung Ke Mini Blog Ini Telah Menunjukan Simpati Anda, Sadari Bangkit Dan Lawan, Bebaskan Papua Dari Jajahan Kolonialisme Anda Memasuki Wilayah Blogger Anak Papua Merdeka | Dengan Berkunjung Di Blog Ini Telah Menunjukan Simpati Anda Pada Perjuangan, Sadari Bangkit Dan Lawan, Bebaskan Papua Dari Jajahan Kolonialisme Anda Memasuki Wilayah Blogger Anak Papua Merdeka | Dengan Berkunjung Ke Mini Blog Ini Telah Menunjukan Simpati Anda, Mari Bangkit Dan Lawan, Bebaskan Papua Dari Jajahan Kolonialisme

Saturday, August 9, 2014

PGI: di Papua OPM Ditembak Mati, di Sini ISIS Dibiarkan

Jakarta - Penolakan terhadap gerakan Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syria terus berdatangan. Salah satunya dari Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Pendeta Phil Erary.
Kelima, mendukung Menteri Agama dan Menko Polhukam untuk menolak ISIS. Keenam, tidak menerapkan standard ganda terhadap berbagai aksi, tindakan dan kelompok yang menolak Pancasila dan NKRI, Jakarta, Senin (04/08/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)
Erary pun menyangkan tindakan pemerintah, terutama aparat penegak hukum, yang terkesan lamban dalam mencegah munculnya ISIS dan seluruh pendukungnya di Indonesia.

"Kalau di Papua, setiap orang yang mengibarkan bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM) langsung ditembak mati. Tapi kenapa kalau ISIS ini seakan dibiarkan. Saya ingin bertanya kenapa polisi diam?" kritik Erary di sela-sela pernyataan sikap penolakan ISIS di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2014).
Menurut Erary, munculnya video ISIS di media sosial yang mengajak masyarakat bergabung, seharusnya tidak terjadi jika pemerintah Indonesia peduli akan persatuan dan kesatuan umat beragama.

"Kami prihatin dengan fenomena ini, pemerintah dalam hal ini polisi, kejaksaan, dan tentara seakan diam dengan munculnya ISIS," kata Erary.

Erary mengatakan, jika fenoma seperti ISIS ini terus bermunculan di wilayah Indonesia, dikhawatirkan akan memicu ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Dalam hal ini mengenai kebebasan dan persatuan antar umat beragama.

"Kami harap pemerintah dengan tegas menindak ISIS. Kami dari Papua bahwa sudah tidak lagi percaya oleh pemerintah, jika tidak ada jaminan hak hidup kepada rakyat Indonesia," ucapnya.

Sekelompok warga Indonesia muncul di sebuah video yang dirilis ISIS dan meminta kaum muslim di Indonesia ikut serta bergabung dengan kelompok mereka.

Video yang berdurasi 8 menit itu diunggah ISIS dengan judul 'Ayo Bergabung'. Video itu menyerukan kewajiban bagi kaum muslim bergabung dan juga menyatakan dukungan bagi kelompok tersebut.

Sumber : Liputan6.com
»»  read more

ISIS yang Ambil Alih Kota di Irak, Siapa Mereka?

Bagdad - Kelompok Islam militan yang dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) telah mengambil alih sejumlah kota di Irak, di antaranya Mosul di Tikrit. Kelompok ini kian mendekati tujuannya untuk menciptakan sebuah negara Islam terpadu yang melintas dari Irak hingga perbatasan Suriah.

Tentara Irak, yang diharapkan untuk mengamankan Mosul, justru meninggalkan kota itu saat serangan ISIS dimulai. ISIS sebelumnya telah menyerbu Kota Fallujah. Kelompok tersebut kini juga menguasai wilayah yang cukup luas di tepi Aleppo di Suriah barat.

Berikut ini lima hal untuk memahami ISIS dan perjuangannya di Timur Tengah.

Siapa Mereka?
ISIS singkatan dari Negara Islam Irak dan Suriah, juga dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Levant (Islamic State of Iraq and the Levant/ISIL). Kelompok ini mencoba untuk membentuk sebuah negara merdeka dengan wilayah meliputi Irak, Suriah, dan bagian dari Lebanon. Kelompok ini dipimpin oleh seorang ulama Irak bernama Abu Bakr al-Baghdadi.

Apa yang mereka lakukan?
ISIS telah berjuang melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad serta kelompok-kelompok militan Islam lainnya di Suriah untuk mengontrol bagian dari Suriah. Mereka juga memerangi pemerintah Irak dalam upaya untuk membentuk negara ISIS bersatu. Taktik brutal yang ekstrem dilakukan setelah kepemimpinan dipegang pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri.

Seberapa kuat mereka?
Minggu ini, pasukan ISIS menguasai Mosul, kota terbesar ketiga di Irak dan yang terbesar sepanjang perbatasan Irak-Suriah. Bersamaan dengan itu, ISIS menyita lebih dari US$ 400 juta uang tunai dari bank-bank di kota tersebut, menjadikannya lebih kaya dari banyak wilayah di negara itu. Menurut Associated Press, ISIS juga telah menguasai Tikrit, di mana Saddam Hussein dilahirkan.

Bagaimana bentuk perlawanannya?
Karena menguasai kota-kota di kedua sisi perbatasan Suriah-Irak, pasukan ISIS dapat dengan cepat memindahkan senjata yang disita dari Mosul ke Suriah pada hari Senin. Senjata-senjata, termasuk Humvee, senapan, rudal, dan amunisi, akan membantu mempersenjatai ISIS dalam pertempuran di kedua sisi perbatasan.

Bagaimana negara yang ingin mereka dirikan?
Wilayah di bagian barat Irak yang ingin ISIS dirikan berada di basis muslim Sunni, begitu juga wilayah Suriah yang ingin mereka rebut. Banyak muslim Sunni di Irak telah bergabung dengan ISIS untuk memerangi tentara Irak, yang berada di bawah kendali minoritas Syiah terutama yang tinggal di sisi lain negara itu.

AP | INDAH P. - Sumber : Tempo
»»  read more

Friday, August 1, 2014

KNPB: PEMERINTAH INDONESIA BERHENTI PAKSA ORANG PAPUA KIBARKAN MERAH PUTIH SAMBUT HUT RI


 


Jayapura,1/8(Jubi)- Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengirimkan rilis ke redaksi tabloidjubi.com, (1/8), meminta pemerintah Indonesia untuk berhenti memaksakan orang Papua mengibarkan bendera Merah Putih menjelang HUT RI, 17 Agustus 2014. permintaan ini mencantumkan berbagai alasan mengapa orang Papua tidak perlu ikut merayakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia itu.

Sekretaris Umum KNPB pusat , Ones Suhuniap mengatakan Walikota Jayapura Benhur Tommy Mano jangan memaksakan Rakyat Papua untuk mengibarkan bendera Merah Putih, memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, karena itu menurutnya merupakan sebuah pemaksaan.
Sebelumnya, Wali Kota Jayapura dalam wawancara melalui TVRI Papua, pada tanggal 31 Juli 2014, mengatakan setiap rumah orang harus menaikkan bendera merah putih, jika tidak maka pemerintah akan lakukan sweeping di tiap kompleks dan rumah.
“Kalau itu yang terjadi, pemerintah terus memaksakan, melanggar hak orang lain yang sudah melekat pada setiap orang dan dijamin oleh hukum internasional maupun nasional. Apakah oranga Papua mau pasang bendera atau tidak itu hak mereka? Apa dasar hukum bagi pemerintah memaksakan rakyat mengibarkan bendera merah putih?” katanya.
Menurutnya ,wali kota Jayapura sangat keliru dan harus belajar sejarah perjuangan Indonesia, bahwa kapan orang Papua ikut berjuang untuk Indonesia merdeka ? Orang Papua Barat tidak pernah terlibat dalam sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dan tidak pernah ikut hadir dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
“Orang tidak pernah akui dan merasa bahwa Papua adalah bagian dari NKRI tidak pernah merasa bangga menjadi bagian dari NKRI oleh sebab itu jangan paksakan,” katanya.
Sebelumnya juga, Penjabat Bupati Mimika, Ausilius You, melalui Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Mimika, Erens Meokbun mengatakan pemerintah daerah setempat akan membagi-bagikan bendera merah putih gratis bagi masyarakat setempat, sebagai bagian dari memerahputihkan wilayahitu pada hari kemerdekaan RI, pengibaran bendera merah putih di seluruh rumah warga akan digelar tanggal 4 Agustus hingga 18 Agustus 2014.
Pihaknya meminta rakyat Papua Barat, tidak harus takut terhadap ancaman pemerintah kota . Adalah hak rakyat untuk tidak ikut berpastisipasi dalam 17 Agustus mendatang. Pihaknya menegaskan bangsa Papua bukan bagian dari NKRRI.
Dia mengatakan,sSelama rakyat Papua Barat belum pernah diberikan ruang demokrasi secara bebas untuk menentukan Nasib sendiri (Self Determination ) melalui Referendum, maka orang Papua Barat akan tetap menolak keberadaan NKRI di Papua.
Terlebih mengingat bahwa Indonesia pada masa perjuangan sampai dengan proklamasi kemerdekaan, katanya, hanya memiliki wilayah teritorial atau batas negara dari Sabang sampai di Amboina) saja. Itu adalah wilayah Indonesia yang dijajah oleh Belanda selama 350 tahun.
Sedangkan Papua Barat (Nederland Nieuw-Guinea) dijajah oleh Belanda selama 64 tahun.
Dia mengatakan, meski Papua Barat dan Indonesia sama-sama bekas jajahan Belanda, namun secara administrasi pemerintahan Papua Barat diurus secara terpisah.
“ Indonesia dijajah oleh Belanda yang kekuasaan kolonialnya dikendalikan dari Batavia (sekarang Jakarta), kekuasaan Batavia inilah yang telah menjalankan penjajahan Belanda atas Indonesia, yaitu mulai dari Sabang sampai Amboina. Kekuasaan Belanda di Papua Barat dikendalikan dari Hollandia (sekarang Port Numbay), dengan batas kekuasaan mulai dari Kepulauan Raja Ampat sampai Merauke,” katanya.
Lebih jauh dia mengatakan, pada 1908 Indonesia masuk dalam tahap Kebangkitan Nasional (perjuangan otak) yang ditandai dengan berdirinya berbagai organisasi perjuangan. Dalam babak perjuangan baru ini banyak organisasi politik-ekonomi yang berdiri di Indonesia, misalnya Boedi Utomo (20 Mei 1908), Serikat Islam (1911), Indische Partij (1912), Partai Komunis Indonesia (1913), Perhimpunan Indonesia (1908), Studie Club (1924) dan lainnya.
Dalam babakan perjuangan ini, terutama dalam berdirinya organisasi-organisasi perjuangan ini, lanjutnya, rakyat Papua Barat sama sekali tidak terlibat atau dilibatkan.
Hal ini menurutnya dikarenakan musuh yang dihadapi waktu itu, yaitu Belanda adalah musuh bangsa Indonesia sendiri, bukan musuh bersama dengan bangsa Papua Barat. Rakyat Papua Barat berasumsi bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai musuh yang bersama dengan rakyat Indonesia, karena Belanda adalah musuhnya masing-masing.
Selain itu, rakyat Papua Barat juga tidak mengambil bagian dalam Sumpah Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928. ketika banyak banyak kumpulan pemuda Indonesia seperti Jong Sumatra Bond, Jong Java, Jong Celebes, Jong Amboina, dan lainnya hadir untuk menyatakan kebulatan tekad sebagai satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.
Tapi tidak pernah satu kumpulan pemuda dari Papua Barat yang hadir dalam Sumpah Pemuda tersebut.
“Karena itu, rakyat Papua Barat tidak pernah mengakui satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air yang namanya “Indonesia” itu,” katanya.
Dalam perjuangan mendekati saat-saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tidak ada orang Papua Barat yang terlibat atau menyatakan sikap untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.
Salah satu tokoh proklamator Bangsa Indonesia, Mohammad Hatta dalam pertemuan antara wakil-wakil Indonesia dan penguasa perang Jepang di Saigon Vietnam, tanggal 12Agustus 1945, juga menegaskan bahwa “…bangsa Papua adalah bangsa Negroid, ras Melanesia, maka biarlah bangsa Papua menentukan nasibnya sendiri…”.
Sementara Soekarno mengemukakan bahwa bangsa Papua masih primitif sehingga tidak perlu dikaitkan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal yang sama pernah dikemukakan Hatta dalam salah satu persidangan BPUPKI bulan Juli 1945.
Ketika Indonesia diproklamasikan, daerah Indonesia yang masuk dalam proklamasi tersebut adalah Indonesia yang masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda, yaitu “Dari Sabang Sampai Amboina”, tidak termasuk kekuasaan Nederland Nieuw-Guinea (Papua Barat). Karena itu pernyataan berdirinya Negara Indonesia adalah Negara Indonesia yang batas kekuasaan wilayahnya dari Sabang sampai Amboina tanpa Papua Barat.
“Dengan demikian orang Papua Barat tidak akan pernah ikuti negara NKRI di Papua Barat.,” katanya.(Jubi/Mawel)

Sumber : Jubi
»»  read more